Jumat, 01 Februari 2013
Antara Ambisi dan Kata Hati
23 bukan usia yang muda lagi. Bahkan tahun ini, beberapa bulan lagi, usiaku bukan lagi 23 tapi 24. 24??? seolah aku tersenyum kecut menghadapi kenyataan ini. Di usia ini, gambaran idealnya adalah seorang wanita muda yang telah menyelesaikan S1 nya, bahkan mungkin S2-nya, atau sedang proses menyelesaikan studi S2-nya dan sudah memiliki pegangan mantap dengan 1 profesi yang akan diperjuangkannya sebagai karirnya. Ditambah lagi, di usia ini idealnya seorang wanita sudah sudah memulai kehidupan barunya membangun sebuah keluarga. Itu menurut saya.
Namun realitanya dalam kehidupan saya, saya sudah lulus dari S1, alhamdulillah...meskipun sampai saat ini keperluan pendaftaran wisuda saya belum saya urus (deuh..mengenaskan sekali). S2??? masih tetap ada dalam angan saya untuk mencapainya. Masih kuat impian saya bisa menempuh studi S2 di luar negeri. Dengan tersenyum kecut saya berucap,"Mengenaskan sekali..sampai saat ini masih tercatat sebagai harapan."
Sedangkan karir...sampai saat ini pun aku belum tahu akan kulangkahkan kemana kakiku dalam meniti karir. Meskipun banyak yang memuji profesi yang kujalani saat ini sebagai pekerjaan yang mulia, namun juga tidak sedikit yang tersenyum sinis sambil berucap, "S1 Ekonomi kok cuma kayak gitu. Ilmunya belum terpakai dong."
Aku lebih senang menyikapi ucapan-ucapan sinis itu senang masa bodoh. Ini impianku. Impian yang kubangun sejak kecil agar suatu saat nanti aku dapat menjadi pekerja sosial, dapat memiliki Panti Asuhan dan Klinik Pengobatan, dapat memiliki anak asuh sebelum aku menikah. Meskipun saat ini lembaga ini bukan milikku, setidaknya aku telah ikut memberikan sumbangsih di sini. Sehingga sedikit banyak mendapat ilmu yang sampai kapan pun tidak akan bisa aku dapatkan di bangku sekolah mana pun. Dan melalui pengalamanku di sini, aku bisa benar-benar mewujudkan impianku untuk mendirikan program serupa di kampung halamanku, meskipun konsep yang kuangankan sedikit berbeda dengan di sini.
Namun, bagaimanapun juga sebagai anak tunggal, tumpuan hidup satu-satunya bagi ibuku, aku juga harus berpikir jauh ke depan. Berpikir lebih riil. Tidak mungkin selamanya aku dengan keadaan seperti ini. Andaikan aku bukan anak tunggal, mungkin masih bisa. Namun kenyataannya berbeda.
Aku harus segera mencari pijakan yang jelas untuk hidupku. Bukan berarti di sini bukan pijakan yg tidak jelas...bukan. Namun, sesuai dengan targetku, sesuai dengan harapanku bahwa di usia 24 aku bisa membangun sebuah keluarga, setidaknya aku hanya memiliki waktu beberapa bulan lagi untuk mencari pijakan yang jelas. Karena apa? Aku tulang punggung keluarga. Sangat tidak pantas, dengan kondisi keluargaku sekarang ini, aku membebankan biaya pernikahan pada ibuku. Aku harus bisa menanggungnya sendiri. Cukuplah sudah aku membebani ibuku dengan beban-beban hidup. Perjuangan yang ibuku lalui sangat tidak ringan. Sudahlah...kini saatnya ibuku beristirahat.
Dengan kenyataan itu semua,aku sempat berpikir harus segera memulai karir di tempat yang baru. Namun mencari penghasilan itu tidak mudah. Sempat berpikir lebih baik aku di Tulungagung saja, dekat dengan keluarga. Namun sebuah pekerjaan di Tulungagung umumnya harus dibeli dengan uang sekian juta, itupun belum menjadi pegawai tetap dan gaji yang didapatkan sangatlah jauh dengan cukup. Mungkin hanya cukup sebagai ongkos transport. Pernah terpikirkan mendirikan usaha di Tulungagung, namun apa??? seharian saya berpikir bisnis yang prospek dengan modal yang mungkin bisa saya jangkau. Dan hasilnya sampai sekarang belum saya temukan. wal hasil, akhirnya saya memutuskan mungkin lebih baik untuk saat ini saya mencari pekerjaan di luar kota. Dan daerah yang saya tuju adalah Jawa Barat. Tanah Pasundan, impian saya. Hahaha....lucu memang. Mungkin pilihan ini diwarnai oleh impian kuat saya untuk bisa tinggal di tanah Pasundan dan bergaul bersama orang-orang Sunda. Impian yang konyol memang bagi sebagian orang.
Namun kemudian sempat terlintas dalam pikiran saya. Kenapa seolah aku sibuk sekali dengan aktivitasku untuk mencapai segala impianku sendiri??? Realitanya aku adalah anak tunggal. satu-satunya tumpuan dan harapan bagi ibuku. Jikalau nantinya aku memang dapat mencapai segala impianku, siapakah yang berani menjamin di hari itu ibuku juga masih bersamaku untuk dapat menikmatinya??? Tidakkah aku berpikir bagaimana jika di tengah kesibukanku mencapai impian tersebut Allah meminta ibuku??? Atau mungkin aku sendirilah yang diminta Allah??? Saya yakin, tidak ada satu pun di antara kita yang berharap demikian. Namun siapa yang bisa memberikan jaminan??? Jika semua hal itu terjadi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menyesalnya saya.
Ini PR bagi kita semua, terlebih bagi saya yang berperan sebagai anak tunggal dalam menentukan pilihan hidup. Meskipun takdir sudah tertulis, namun hidup adalah pilihan. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjukNya untuk kita dalam menentukan setiap pilihan hidup kita. Semoga Dia senantiasa memberikan pilihan yang terbaik untuk kita. Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)